Fenomena pembentukan bisnis start up sedang menggurita di Indonesia. Banyak bisnis baru yang bermunculan, terutama di bidang IT. Tapi apakah bisnis start up itu selalu identik dengan bisnis IT? Apakah bisnis UKM juga termasuk Start Up?

Bisnis Start Up sudah pasti masuk kategori UKM, namun bisnis UKM belum tentu masuk kategori bisnis Start Up.

Bisnis Start Up mengacu pada bisnis yang masih baru, berawal dari something small (modal kecil, karyawan sedikit, dan akuisisi pasar belum besar), memiliki produk yang inovatif, namun memiliki skalabilitas yang cukup tinggi. Dalam artian, bisnis Start Up digadang-gadang mampu menjadi besar dalam waktu yang singkat karena memiliki banyak inovasi, baik dari segi produk, manajemen, maupun pemasaran.

Bisnis Start Up tidak harus selalu bisnis IT. Semua bisnis yang masih baru, berskala kecil, dan memiliki produk yang inovatif bisa disebut sebagai start up.

Namun mengapa di Indonesia kata Start Up sering dipakai untuk mewakili bisnis berbasis IT atau teknologi informasi seperti apps, software, produk berbasis teknologi, dan masih banyak lagi?

Ini karena kemunculan bisnis Start Up berbasis IT jauh lebih banyak dibanding jenis bisnis lain, dan kebanyakan bisnis IT lebih sering didanai oleh investor ketimbang model bisnis lain. Sehingga banyak bisnis start up yang berkembang dan memicu orang lain untuk membuat start up juga.

Sedangkan, UKM belum tentu termasuk start up. Ini disebabkan karena beberapa UKM memiliki usia yang sudah lama (di atas 5 tahun), sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai bisnis baru atau muda.

Selain itu, UKM juga masih banyak yang tidak memenuhi syarat menjadi sebuah start up, salah satunya yakni inovasi. Minimnya sumber daya terdidik dari UKM membuat bisnis UKM seringkali minim inovasi. Padahal bisnis Start Up adalah tipe bisnis yang sangat mengedepankan inovasi untuk memenangkan persaingan dan mengakuisisi pasar. Hal inilah yang juga menyebabkan mengapa bisnis UKM sulit mencapai skala besar sedangkan bisnis Start Up mudah dan cepat mencapai skala besar.

Bisnis UKM memerlukan waktu hingga belasan tahun untuk bisa berkembang dan membesar. Sedangkan start up tidak membutuhkan waktu selama itu untuk menjadi sebuah bisnis yang memiliki valuasi besar. Contohnya Gojek. Belum sampai 5 tahun pendiriannya, valuasinya sudah mengalahkan Blue Bird, raksasa transportasi dengan profit raksasa setiap tahunnya.

Mental pemiliknya juga berbeda. Pemilik start up selalu percaya dengan mimpi besar mereka, mereka siap dengan segala macam perubahan, dan mereka siap untuk bergerak, berinovasi, dan berubah mengikuti perkembangan zaman dan trend pasar saat ini. Sedangkan pemilik UKM masih banyak yang tidak memiliki mentalitas seperti ini.

Bisnis Start Up tidak melulu dibentuk oleh pendatang baru. Sebuah korporasi besar juga bisa membuat sebuah start up untuk mengembangkan bisnis baru mereka yang masih dalam skala kecil.

Tidak semua korporasi besar membuka bisnis baru langsung besar. Terkadang mereka juga membuat start up untuk menguji apakah bisnis baru mereka bisa diterima pasar atau tidak. Jika iya, barulah start up tersebut dikembangkan menjadi bisnis yang besar.

Membuat sebuah start up untuk menguji ide bisnis baru menjadi pilihan yang banyak diminati perusahaan besar. Jika start up merugi, mereka tidak akan kehilangan banyak dana. Namun jika sukses, mereka cukup menambah pendanaan untuk mengembangkan start up tersebut menjadi bisnis besar.

- WEBINAR GRATIS : ALONA PRESENTS
Jualan di Instagram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here