Sudah jadi fenomena umum jika sebuah start up di Indonesia sangat kesulitan mendapatkan permodalan. Minimnya lembaga permodalan investasi, baik venture ataupun angel capital, membuat banyak pemilik bisnis melarikan diri ke bank atau meminjam uang kepada teman/saudara. Padahal tidak semua bank mau memberikan pinjaman kepada pengusaha baru. Dan tidak semua orang mau meminjamkan uangnya kepada orang yang baru berbisnis.

Dibandingkan dengan Amerika Serikat, Indonesia memiliki sangat sedikit lembaga venture capital. Sedangkan di Amerika Serikat, lembaga investasi untuk start up sudah sangat menjamur. Akibatnya banyak start up yang berkembang karena mudah mendapatkan pendanaan dari investor.

Lalu kenapa di Indonesia sangat sedikit sekali lembaga permodalan untuk start up?

Pertama, karena orang Indonesia sendiri masih belum memiliki budaya investasi. Kebanyakan orang di Indonesia jika memiliki uang, mereka akan menggunakan uang tersebut untuk berbelanja barang-barang konsumtif. Hanya sedikit golongan middle up di Indonesia yang mengetahui tentang kegunaan berinvestasi.

Makanya jika ada uang berlebih, banyak orang yang akhirnya menggunakan uangnya untuk membeli dan berbelanja barang konsumtif. Akhirnya budaya konsumtif inilah yang terus lestari hingga sekarang. Dapat uang banyak bukannya berpikir untuk investasi apa, tapi orang-orang malah berpikir untuk “Habis ini beli barang apa lagi, ya?”

Kedua, pola investasi masyarakat masih banyak yang tergerus pola investasi konvensional. Dahulu orang sangat giat untuk bekerja keras dan mengumpulkan uang. Uang ini nantinya akan dibelikan property. Hingga saat ini, berinvestasi pada property masih menjadi primadona banyak orang. Terlebih karena jumlah penduduk semakin banyak, sehingga manusia membutuhkan lebih banyak tempat untuk tinggal.

Lama-kelamaan harga property semakin meningkat hingga jika ada orang yang ingin berinvestasi di sana, mereka harus menunggu uangnya terkumpul hingga ratusan juta atau milyaran rupiah dahulu. Apalagi, stigma orang tua yang mengatakan “investasi terbaik dan paling minim resiko adalah property” membuat orang-orang lebih memilih untuk menabungkan uangnya hingga cukup membeli paling tidak satu buah rumah.

Padahal selain property juga ada jenis investasi lainnya yang menguntungkan namun tidak memerlukan dana sebesar property. Contohnya berinvestasi dalam bisnis start up atau saham. Cukup dengan uang Rp 10 juta pun, Anda bisa mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat. Namun pendidikan investasi di Indonesia kurang banyak yang mengarahkan ke sana.

Ketiga, masih minimnya pertumbuhan start up di Indonesia menyebabkan orang kurang begitu aware dengan berinvestasi di bisnis start up. Selain itu, karena pengetahuan bisnis entrepreneur Indonesia yang masih minim, menyebabkan hanya sedikit start up di Indonesia yang bisa sukses dan menghasilkan keuntungan berlebih.

Pada hakikatnya, setiap investor menginginkan uang mereka kembali dan membawa keuntungan. Namun rasio bisnis yang sukses vs gagal adalah 20 : 80, membuat banyak orang kaya sedikit ragu untuk menginvestasikan uang mereka ke bisnis baru.

Meskipun Indonesia masih minim lembaga permodalan/investasi, tak berarti harus melunturkan semangat berwirausaha Anda. Tugas Anda adalah membangun bisnis Anda dengan baik. Soal mendapatkan dana investasi atau tidak, jika bisnis Anda bagus dan Anda memiliki track record yang baik, maka nantinya akan ada saja pihak yang mau bergabung ke bisnis Anda sebagai pemodal.

- WEBINAR GRATIS : ALONA PRESENTS
Jualan di Instagram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here