Belakangan ini marak beredar istilah social entrepreneurship, terutama di belahan bumi bagian barat (Negara-negara di Eropa dan Amerika). Social entrepreneurship adalah bisnis yang sangat mengutamakan kesejahteraan sosial orang-orang yang terlibat di dalam bisnis tersebut, baik dari level buruh hingga level manager.

Bukankah semua pengusaha harus mensejahterakan karyawan mereka? Lalu apa bedanya dengan pengusaha kapitalis? Pengusaha seperti apa yang harusnya kita tempuh?

Ada beberapa perbedaan mendasar tentang pengusaha sosial (SOCIOPRENEUR) dengan pengusaha kapitalis. Di antaranya :

1) PENGUSAHA SOSIAL SANGAT MENGUTAMAKAN KESEJAHTERAAN PEGAWAINYA, KAPITALIS CENDERUNG MENEKAN BIAYA SDM DEMI MENDAPATKAN PROFIT SETINGGI-TINGGINYA

Pemerintah menetapkan UMR (Upah Minimum Regional) yang berfungsi sebagai patokan standar gaji minimum seorang pekerja di wilayah tersebut. Harapannya, para pengusaha dapat memberikan upah minimal seperti UMR yang telah ditetapkan. Pada kenyataannya, pengusaha kapitalis banyak yang belum memenuhi standar tersebut. Mereka lebih memilih menekan gaji buruh demi mencetak banyak profit. Menaikkan upah buruh hanya akan menambah budget pengeluaran perusahaan, yang otomatis akan mengurangi profit mereka setiap bulan. Karenanya banyak buruh yang hidupnya tidak layak, sedangkan pengusahanya hidup dalam harta yang bergelimang.

Sociopreneur tidak demikian. Ia berfokus pada penyejahteraan buruh. Sociopreneur rela mengurangi profit usaha mereka asalkan buruh yang bekerja mendapatkan gaji yang layak yang dapat memenuhi standar kebutuhan hidup di area tersebut.

2) PENGUSAHA SOSIAL TIDAK SEGAN MENGELUARKAN DANA EKSTRA DEMI MENCIPTAKAN WORKING SPACE YANG AMAN, SEDANGKAN KAPITALIS TIDAK SUKA MENGHAMBURKAN UANG UNTUK HAL DEMIKIAN

Keamanan tempat usaha juga menjadi prioritas seorang sociopreneur. Ruangan untuk bekerja haruslah memenuhi standar keamanan dan ergonomis. Untuk mewujudkannya, tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit. Otomatis ada dana lagi yang harus dikeluarkan demi memenuhi standar-standar keamanan tersebut, membeli peralatan yang safety, serta menata ruangan agar nyaman untuk bekerja.

Pengusaha kapitalis tidak akan mau menghamburkan uangnya demi membuat tempat kerja yang aman bagi buruhnya. Tempat kerja dibuat seadanya, asalkan tetap bisa produksi sesuai target yang diberikan. Bagi pengusaha kapitalis, bekerja dalam kondisi tidak aman dan nyaman adalah konsekuensi yang harus diterima para buruh dan termasuk dalam bagian resiko pekerjaan.

3) PENGUSAHA SOSIAL BERFOKUS PADA KESEJAHTERAAN PEGAWAINYA SEBAGAI HAL YANG UTAMA, SEDANGKAN PENGUSAHA KAPITALIS BERFOKUS PADA MENCETAK PROFIT SETINGGI-TINGGINYA

Untuk mencetak profit yang tinggi, tentunya harus ada pengeluaran yang ditekan. Salah satu pos pengeluaran yang paling banyak ditekan oleh pengusaha kapitalis adalah pos untuk gaji dan upah. Bagi orang yang bekerja di perusahaan kapitalis, tak jarang mereka harus menanggung resiko bergaji kecil dengan jam kerja yang sangat padat. Bahkan uang lembur yang mereka terima juga kecil. Mengapa mereka tidak mendapatkan gaji yang layak? Karena sebagian kecil gaji mereka telah dipotong untuk menambah profit bos-bos mereka.

Sociopreneur tidak demikian. Jika Anda memilih untuk menjadi sociopreneur, Anda harus menyejahterakan karyawan dan buruh Anda terlebih dahulu. Barulah Anda berpikir tentang bagaimana menambah profit tanpa harus menekan standar gaji karyawan-karyawan Anda.

Kunci bisnisnya adalah meningkatkan taraf hidup dan sosial orang-orang yang bekerja di bisnis Anda. Makin banyak orang yang berhasil Anda angkat sosial dan ekonominya, makin bagus bisnis sosial yang Anda jalankan. Jika Anda ingin mencetak profit lebih banyak lagi, maka Andaharus membesarkan skala bisnis Anda. Bukannya dengan tekan biaya sana sini atau memangkas gaji buruh.

Menjadi pebisnis sosial (sociopreneur) sebenarnya adalah model bisnis yang sangat ideal dan dibutuhkan di Indonesia. Mengingat di Indonesia masih banyak pengangguran dan buruh-buruh yang bekerja di bawah gaji cukup dan hidup jauh dari standar kelayakan hidup. Negara kita butuh lebih banyak pengusaha sosial demi pemerataan kesejahteraan. Apakah Anda siap menjadi sociopreneur berikutnya?

bisnis online bersama alona belajar bisnis online gratis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here