Pernah mendengar tentang Peer to Peer Lending (P2P Lending)? Jika belum, tidak masalah. Karena ini adalah salah satu jenis permodalan baru di Indonesia. P2P Lending adalah sebuah media yang mempertemukan pebisnis dengan calon pemodal dengan sistem pinjaman berbunga.

Pinjaman ini berbeda dengan bank, karena bank memerlukan jaminan. Sedangkan P2P tidak memerlukan jaminan. Untuk pinjaman bank, uang diberikan oleh pihak bank. Sedangkan dalam sistem P2P Lending, uang diberikan oleh pemodal atau gabungan beberapa pemodal langsung kepada pebisnis.

Bagaimana sistem pengembalian uangnya? Sama seperti peminjaman di bank. Pebisnis akan dikenai bunga tahunan dan harus mengangsur pengembalian modal setiap bulan disertai dengan bunga yang telah disepakati hingga periode yang telah ditentukan. Biasanya masa pengembalian berkisar antara 6 bulan hingga 24 bulan.

P2P Lending memang memberikan jangka waktu pengembalian yang lebih pendek daripada kredit usaha (pinjaman) dari bank. Namun P2P Lending ini cukup banyak menarik perhatian investor karena bunga yang dihasilkan jumlahnya lebih besar daripada deposito (biasanya berkisar 12-24% per tahun).

Nah, bagi Anda yang memiliki bisnis tetapi tidak memiliki jaminan untuk meminjam ke bank, P2P Lending bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan modal. Namun dengan syarat :

  1. BISNIS SUDAH BERJALAN DAN TERBUKTI PROFIT

P2P Lending ini memiliki kelemahan. Karena tidak memerlukan jaminan, maka bisnis Anda akan benar-benar dinilai oleh pihak P2P apakah layak atau tidak untuk mendapatkan modal. P2P Lending benar-benar tidak akan mau mendanai bisnis yang masih baru. Perhitungan mereka adalah perhitungan profit, bukan lagi sekedar berapa uang yang bisa kita hasilkan dalam rekening kita.

Ini yang membedakan dengan pinjaman di bank. Jika kita beruntung, kita bisa mendapatkan pinjaman di bank asalkan jaminan kita sesuai dengan permintaan mereka dan kita memiliki uang yang cukup setiap bulan untuk membayar cicilan setiap bulan.

Sedangkan untuk P2P Lending biasanya mereka mensyaratkan bisnis Anda sudah berjalan minimal 2 tahun dan terbukti profit. Maka pinjaman P2P Lending ini kurang cocok bagi Anda yang baru memulai bisnis baru. Sebaiknya jalankan dulu bisnis Anda dan miliki portfolio keuangan yang bagus. Usahakan agar cash flow Anda lancar dan sudah menghasilkan profit setiap bulannya meskipun masih kecil.

2. MAMPU MENGEMBALIKAN UANG SESUAI DENGAN JUMLAH DAN WAKTU YANG TELAH DISEPAKATI

P2P Lending memiliki jangka waktu pengembalian yang pendek, maksimal 2 tahun. Karenanya Anda juga harus memiliki kapasitas untuk mencicil dalam waktu yang singkat tersebut. Otomatis jumlah cicilan akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan pinjaman di bank yang bisa 3-5 tahun pengembalian.

3. MEMILIKI LOKASI USAHA YANG BISA DISURVEY

Lokasi usaha menjadi hal yang mutlak untuk survey. Jadi P2P Lending ini cocok bagi Anda yang telah memiliki kantor atau lokasi usaha sendiri.

4. MEMILIKI PEMBUKUAN KEUANGAN YANG BAGUS

Karena mereka menilai kemampuan membayar Anda dari bisnis Anda, tentunya pihak P2P akan meminta pembukuan keuangan Anda untuk dilihat. Tak hanya itu, mereka juga biasanya akan meminta copy rekening Anda untuk melihat berapa mutasi uang yang keluar dan masuk dalam beberapa bulan terakhir.

5. MEMILIKI LEGALITAS USAHA SEPERTI NPWP, SIUP, TDP, ATAU SEBAIKNYA SUDAH BERBADAN USAHA (PT/CV)

Karena ini bukan lembaga keuangan bank, legalitas usaha juga menjadi syarat mutlak untuk melengkapi persyaratan. Biasanya P2P Lending lebih menyukai bisnis yang telah memiliki badan usaha. Tidak perlu membuat PT, Anda cukup membuat badan usaha sekelas CV di notaris dengan biaya yang murah. Dengan memiliki badan usaha, berarti bisnis Anda dinilai sudah besar dan lebih bonafit.

Bagi Anda yang tidak mau menjaminkan agunan untuk mendapatkan pinjaman ke bank, P2P Lending bisa jadi alternatif asalkan bisnis Anda memenuhi persyaratan di atas. Untuk P2P Lending sendiri ada banyak di Indonesia. Contohnya Modalku, Crowdo, GandengTangan, dan Investree.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here