Siapa di sini yang pernah makan Tao Kae Noi? Iya, snack dari rumput laut yang gurih itu. Yang Anda kira produk snack Jepang tapi ternyata snack dari Thailand. Tak hanya rasanya yang gurih. Tapi kisah sukses pendirinya juga cukup gurih untuk disimak.

Top Itthipat, pendiri dari Tao Kae Noi adalah seorang pengusaha muda yang berhasil menjadi milyarder di bawah usia 30 tahun lewat bisnis snack-nya yang mendunia.

Tapi Top Itthipat bukannya tidak melewati seluruh proses yang berat. Top Itthipat justru pernah melewati beragam kegagalan hingga harus merelakan harta keluarganya hampir disita  oleh bank karena terlalu banyak hutang.

Ada banyak pelajaran positif yang bisa kita ambil dari perjalanan Top Itthipat, pengusaha muda yang ulet dan tangguh. Berikut kisahnya :

TOP ITTHIPAT, JAGO BERJUALAN SEJAK SEKOLAH

Top Itthipat dinilai anak yang bandel saat SMA karena sulit disuruh belajar. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk game online. Tapi siapa sangka, dari kesukaannya bermain game online, Top Itthipat jadi berinisiatif untuk menjual senjata yang berhasil ia kumpulkan kepada teman-teman sesame gamers.

Top Itthipat pun menjelma menjadi remaja jutawan, berhasil mengumpulkan uang jutaan Baht (Top Itthipat tinggal di Thailand saat itu) dari bisnis jual beli senjata di game online tersebut. Ia pun membeli beberapa unit komputer untuk menunjang aktifitasnya dalam bermain game online.

Menjadi jutawan dalam masa muda membuat Top Itthipat menjadi remaja yang makin bandel. Ia semakin malas untuk belajar di sekolah dan mulai membawa mobil hasil pembeliannya sendiri dari bisnisnya ke sekolah, padahal saat itu jelas-jelas dilarang membawa kendaraan roda empat ke sekolah.

Berkali-kali mendapat teguran guru dan orang tua tidak membuat Top Itthipat kapok. Malah membuat dirinya makin sombong dan semaunya sendiri. Bagi dia, sekolah formal itu menjemukan. Toh, dia sudah bisa menghasilkan kekayaan sendiri. Jadi buat apa ia harus menuruti keinginan orang lain?

Namun kehidupan Top Itthipat berubah saat aktifitas jual belinya terendus oleh perusahaan developer game tersebut. Pihak developer mem-banned akun Top Itthipat, sehingga ia tidak bisa lagi bermain game online.

Itu artinya, berakhir sudah bisnis jual beli senjata Top Itthipat dari game online.

Sadar sumber finansialnya mampet, Top Itthipat mulai berpikir keras untuk mendapatkan uang. Ia mulai melirik bisnis jual beli DVD player. Top Itthipat pun menarik uang tabungannya dan mencoba membeli DVD player di sebuah toko elektronik. Karena mudah mendapatkan DVD player dengan harga murah, Top Itthipat jadi kalap. Ia menghabiskan modalnya untuk memborong semua DVD player di toko tersebut.

Sesampainya di rumah, Top mencoba menyalakan DVD player tersebut. Namun tak disangka, DVD player yang ia beli ternyata barang bajakan dan sudah rusak semua. Merasa rugi dan tertipu, Top pun kembali ke toko tersebut dan mengembalikan DVD yang ia beli dengan emosi. Ia meminta pemilik toko mengembalikan uangnya. Namun pemilik toko menolak dengan alasan “Barang yang dibeli tidak bisa diuangkan kembali.”

Top pun semakin emosi. Ia menganggap pemilik toko telah menipunya dengan memberinya barang bajakan dengan harga barang asli. Dengan kesal dibantingnya DVD player tersebut ke etalase toko. Tapi kemarahan Top justru menimbulkan kerusakan di toko. Pemilik toko yang merasa dirugikan berbalik menyerang dan mengejar Top Itthipat. Top Itthipat pun melarikan diri dengan perasaan kalut dan sedih.

Sampai di rumah, Top hanya termenung melihat uangnya melayang tanpa hasil. Belum lagi sambutan omelan ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya menasihati Top untuk fokus saja sekolah, tak usah bermain game lagi, apalagi mencoba-coba bisnis. Namun Top tak menyetujui nasihat tersebut.

BANGKIT DENGAN BISNIS KACANG GORENG

Terlalu banyak bermain game membuat Top tidak ada waktu untuk belajar. Alhasil ia pun lulus SMA namun tidak bisa masuk ke perguruan tinggi negeri. Namun Top tidak memusingkan hal tersebut. Ia bermaksud mendaftar di perguruan tinggi swasta di jurusan favoritnya, jurusan bisnis.

Keputusan Top mendapat pertentangan keras dari kedua orang tua Top. Biaya masuk universitas yang mahal menjadi masalah bagi keluarga Top. Ayah Top pun menyalahkan kebiasaan Top bermain game.

Namun Top bersikeras kuliah di universitas swasta dan berjanji membayar sendiri biaya kuliahnya. Akhirnya orang tua Top pun mengizinkan dan ayah Top memberikan uang untuk biaya kuliah Top. Namun uang itu adalah hasil dana pinjaman ke bank.

Top merasa tersinggung dibayar dengan uang pinjaman. Ia menolak pemberian ayahnya dan bersikeras untuk membayar sendiri pendidikannya.

Akhirnya dengan uang yang tersisa ia membayar sendiri pendaftaran kuliahnya sebesar 58.000 Baht (Rp 17.4 juta). Dengan sisa uang yang ada, ia memutar otak untuk mendapatkan uang lebih.

Top pun mulai melirik bisnis kacang goreng yang sedang booming di Thailand. Setelah mensurvei peralatan, ia pun membeli sebuah mesin penggorengan kacang seharga 50.000 Baht. Hal ini tidak membuat Top mendapatkan dukungan dari orang tuanya, justru semakin mendapatkan omelan sengit. Top dianggap boros dan terlalu mahal membeli peralatan.

Tidak mendapatkan dukungan orang tua tidak membuat Top putus asa. Ia mulai melakukan riset dan percobaan untuk membuat kacang goreng yang yang enak. Riset pun dimulai dengan bertanya-tanya resep kacang goreng ke penjual, mencoba sendiri, gagal, mencoba lagi, hingga meriset sendiri bumbu apa yang pas untuk kacang gorengnya.

Setelah melalui percobaan yang gagal berulang kali, terciptalah kacang goreng yang enak. Top pun meminta seluruh keluarganya untuk mencoba kacang goreng buatannya. Setelah mendapatkan testimonial enak dari seluruh anggota keluarga, barulah Top memasarkan kacang gorengnya di mall.

Tapi berjualan di mall tidaklah semulus yang Top kira. Penjualan kacang gorengnya sepi karena Top diberi tempat yang sulit dijangkau oleh banyak pengunjung mall. Top pun meminta manajemen mall untuk memindahkan rombongnya di dekat pintu masuk, karena di situlah pusat keramaian orang.

Awalnya pihak mall menolak karena tempat di dekat pintu masuk sudah penuh semua. Namun Top terus memohon. Untungnya Dewi Fortuna sedang bersama Top saat itu, ada satu booth yang akan segera kosong dalam bulan berikutnya. Top pun memindahkan lokasi berjualannya ke tempat tersebut.

Karena lokasinya strategis, Top pun mendapatkan banyak pembeli dan ia terpaksa harus bolos kuliah untuk membantu pamannya berjualan. Top pun merasa senang, akhirnya jerih payahnya terbayarkan.

Namun masalah tidak berhenti sampai di situ. Karena Top berjualan kacang goreng di mall, atap mall menjadi gosong karena asap. Pihak mall yang merasa dirugikan pun memutus sepihak kontrak dengan Top. Lagi-lagi Top dirundung kerugian.

HUTANG YANG MENUMPUK DAN KEPINDAHAN KELUARGA KE CHINA

Karena Top sulit diatur, tingkah Top pun mendatangkan banyak kerugian bagi keluarga. Keluarga Top jadi terlilit hutang puluhan juta Baht. Sehingga keluarga Top berinisiatif untuk pindah ke China dan memulai hidup baru.

Top merasa terpukul atas keputusan orang tuanya. Ia merasa jika ikut pindah ke China, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk berbisnis kembali. Ia pun meminta untuk tinggal di Thailand bersama pamannya.

Namun berita buruk lagi-lagi menerpa Top. Hutang bank yang tidak terbayar membuat rumah Top dan seluruh isinya hampir disita bank. Top hanya memiliki waktu beberapa bulan untuk melunasi hutang tersebut sebelum harta orang tuanya menjadi milik bank.

Di tengah kekalutan dan kondisi keuangan yang minus, Top pun terpaksa keluar dari universitas tempat ia menuntut ilmu karena tidak ada uang lagi untuk membayar biaya kuliah. Ia pun kebingungan harus berbisnis apa lagi karena seluruh uang di tabungannya sudah habis.

BERTEMU DENGAN CAMILAN RUMPUT LAUT

Kerugian bisnis, uang habis, rumah akan segera disita bank, ditinggal orang tua, dan kondisi percintaan yang kacau membuat Top stress. Top yang semula ceria kini berubah menjadi pemuda yang pendiam dan sering melamun.

Karena kemarin-kemarin terlalu sibuk berbisnis, Top jadi tidak ada waktu untuk berkomunikasi dengan pacar yang sangat disayanginya. Pacarnya pun sempat memintanya untuk berhenti berbisnis dan fokus kuliah. Namun Top tidak mau menurut.

Akhirnya ide bisnis baru datang saat Top bertemu dengan pacarnya. Saat itu ia diberi oleh-oleh berupa camilan rumput laut. Rupanya pacarnya habis bepergian ke provinsi lain.

Top pun bertanya,”Memangnya kamu tidak bisa membeli camilan ini di sini? Pakai ke provinsi lain segala?”.

Pacarnya pun mengatakan jika di Bangkok, camilan tersebut belum ada.

Karena rasa rumput lautnya sangat enak, Top mengira pasti bakal banyak orang yang juga menyukai camilan tersebut. Top pun berinisiatif membuat bisnis camilan rumput laut.

Sepulangnya ke rumah, ia pun menceritakan ide bisnisnya kepada pamannya dan mengajak pamannya untuk membuka bisnis kembali.

Bukannya mendapat dukungan, pamannya justru menolak ajakan Top. Alasannya, mereka sudah tidak punya uang lagi untuk modal.

Tapi Top tidak menyerah. Ia segera mencari pembeli untuk mesin-mesin penggorengan kacangnya. Ia menjual semua mesinnya dan menggunakan uang tersebut sebagai modal.

Top pun mulai melakukan uji coba. Ia membeli puluhan dus rumput laut untuk digoreng. Sayangnya berkali-kali menggoreng pun, camilan rumput laut Top gagal dibuat. Jika bukan karena gosong, rasanya tidak enak, ya hasil penggorengannya membuat rumput laut cepat basi.

Meskipun gagal berkali-kali, Top tidak menyerah. Ia pun pergi ke seorang dosen yang khusus mempelajari biota laut untuk menanyakan rumput lautnya.

Awalnya dosen tersebut menolak mengajari Top membuat camilan rumput laut yang tahan lama. Namun Top terus memohon dan bercerita bahwa ia sudah gagal bisnis berulang kali dan sedang terlilit hutang.

Melihat Top yang masih sangat muda namun sudah bernasib sial karena gagal berbisnis terus, akhirnya hati dosen tersebut tersentuh. Ia pun mengajari Top membuat kemasan untuk rumput lautnya agar tahan lama.

Lagi-lagi, Top harus memutar otak supaya bisa membeli mesin pengemas untuk rumput lautnya. Ditambah lagi, stok rumput laut mentah di rumah mulai habis. Top pun menjual semua komputer di rumahnya untuk tambahan modal dan meneruskan uji coba.

Satu masalah selesai, Top pun kembali melakukan uji coba membuat camilan rumput laut yang enak. Namun berita mengejutkan datang. Karena terlalu lelah membantu Top, Pamannya jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Mau tidak mau, Top harus bekerja keras meneruskan uji cobanya sendiri.

Sisa rumput laut yang baru saja ia beli dari petani pun habis. Dus terakhir sudah ia goreng semua dan hasilnya tetap nihil. Rumput laut buatannya tetap tidak enak.

Galau, kecewa, sedih, dan stress bercampur jadi satu. Sementara orang bank tetap berkali-kali mendatangi rumahnya untuk memberitahukan rumah dalam proses penyitaan. Di sisi lain Top harus berpikir keras untuk selamat dari kemiskinan.

Keadaan Top yang sedang jatuh terdengar oleh pacar Top. Ia pun memaksa Top untuk kembali kuliah hingga lulus lalu bekerja seperti pemuda kebanyakan. Namun Top menolak. Ia juga menolak bantuan dana dari orang tua pacarnya untuk kuliah lagi. Hubungan mereka pun putus.

Di tengah kegagalan bertubi-tubi tersebut, Top menemukan ada satu plastik rumput laut yang tercecer dan belum tergoreng. Kemasannya hampir rusak karena terkena air hujan. Dengan perasaan kalut, ia mencoba menggoreng rumput laut terakhir itu. Tak disangka rumput laut itu justru enak.

Ternyata, partikel-partikel hujan yang mengenai rumput laut yang tercecer tersebut membuat rasanya jadi asin dan gurih. Top pun menambahkan bumbu untuk membuat gurih rumput laut tersebut.

Produk rumput laut sudah jadi dan siap dipasarkan. Kembali Top menghabiskan uang terakhirnya untuk menyewa lokasi berjualan di mall. Karena rasanya enak, camilan rumput laut milik Top pun  laris manis. Kerja keras Top dan pamannya terbayar. Mereka mendapatkan banyak uang tiap bulan.

MEMBESARKAN BISNIS LEWAT SEVEN ELEVEN

Meskipun mendapatkan banyak uang dari hasil berjualan di mall, uang itu tetap tidak cukup untuk melunasi hutang orang tuanya dan menebus rumah Top. Lagi-lagi ia berpikir keras untuk mencari uang. Satu-satunya jalan adalah dengan membesarkan bisnis camilan rumput lautnya.

Top pun memberanikan diri untuk memasarkan produknya lewat Seven Eleven. Bukannya diterima, produk Top malah ditolak karena terlalu besar dan kemasannya tidak menarik.

Top pun tidak menyerah. Ia menghubungi seorang desainer grafis dan memintanya untuk membuatkan brand dan kemasan yang unik untuk produknya. Jadilah brand Tao Kae Noi dipilih untuk merek camilan rumput lautnya.

Setelah jadi, Top pun kembali ke Seven Eleven. Ia memberikan sampel produknya untuk dikaji. Karena rasanya enak, produk Top pun diterima oleh Seven Eleven.

Namun masalah kembali hadir. Top diwajibkan menyetor produk sejumlah 72.000 setiap bulan untuk didistribusikan ke toko-toko Seven Eleven di seluruh Thailand. Jika tidak mampu, kontrak akan dibatalkan secara sepihak.

Di satu sisi Top merasa senang karena jalannya menjadi pengusaha besar terbuka. Di satu sisi ia juga kalut karena tidak memiliki pabrik untuk memproduksi barang sebanyak itu. Namun, tak ada pilihan lain. Ia pun menyetujui kontrak dengan Seven Eleven.

Masalah kembali muncul. Bulan berikutnya, pihak Seven Eleven akan melakukan inspeksi ke pabrik Top. Jika kriteria tidak terpenuhi, maka Top tidak diizinkan meneruskan kontrak dengan Sevel.

Lagi-lagi Top dibuat pusing. Profit hasil berjualan di mall tidak akan cukup untuk membuat pabrik. Ia pun mencoba mengajukan pinjaman ke bank. Lagi-lagi Top mengalami penolakan.

Top yang stress dan putus asa pun menjadi emosi. Ia menjual mobilnya, satu-satunya harta yang ia miliki, untuk membuat pabrik kecil Tao Kae Noi.

Ia lalu nekad membuka ruko orang tuanya yang sudah disegel bank karena hutang tak terbayarkan, dan membuka pabrik Tao Kae Noi di situ. Dengan seadanya uang, ia merekrut orang dan memperbaiki gedung tersebut menjadi pabrik.

Setelah jadi, inspeksi pun dilakukan. Lagi-lagi Top harus menelan kenyataan pahit bahwa pabriknya tidak lolos standar. Namun ia bernegosiasi dengan pihak Sevel dan berjanji akan memperbaiki pabriknya sesegera mungkin.

Tuhan pun memberikan kesempatan pada Top. Meskipun pabriknya masih baru, namun pihak Sevel mengizinkan Top menjadi mitra mereka. Produk Tao Kae Noi pun boleh dipasarkan di sana.

Top mengucap syukur. Segala jerih payahnya mulai terbayarkan. Ia mulai bisa mencicil hutang orang tuanya dan impiannya memboyong orang tuanya kembali ke Thailand terwujud.

WHAT CAN WE LEARN FROM TOP ITTHIPAT?

Top Itthipat mengalami perjalanan yang sangat panjang untuk bisnisnya. Namun ada satu hal yang wajib ditiru dari Top. Meskipun jatuh berulang kali, Top tidak memilih untuk berhenti. Ia terus bangkit dan mencoba kembali hingga berhasil.

Jangan dikira setelah berhasil menjalin kerja sama dengan Sevel, usaha Top mulai membuahkan hasil. Belum. Top masih harus memutar otak lagi untuk modal operasional pabrik di bulan-bulan berikutnya. Ini karena pembayaran Sevel hanya tiap 3 bulan sekali. Jadi Top tetap harus memutar otak mendapatkan dana tambahan supaya pabriknya tetap beroperasi.

Belum lagi karena Tao Kae Noi adalah cemilan baru, Top harus bekerja ekstra keras mengenalkan produknya ke masyarakat. Top pun tak segan menyewa tempat paling depan supaya orang yang masuk toko langsung melihat produknya.

Bisa dilihat kan, bahwa hanya pribadi yang tangguh saja yang akan berhasil? Kita tidak akan sukses jika belum melewati kegagalan. Karena kesuksesan dan kegagalan adalah satu paket yang tidak bisa dipisah. Lagipula, Anda hanya benar-benar gagal jika Anda berhenti mencoba.

2 COMMENTS

  1. SANGAT MENGINSPRIRASI SEKALI…. MULAI HARI INI SAYA AKAN MEMBUAT PLANNING SAYA MENJADI KENYATAAN… TERIMA KASIH KOKO RICO HUANG…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here