Suatu hari saya mendengar curhatan seorang teman yang sering kali galau dalam hidupnya, lalu saya sarankan dia untuk membeli buku yang berisi tentang motivasi agar hidupnya tidak drop. Saya juga menyarankan untuk mengikuti suatu seminar yang pernah mengubah pola pikir saya tentang hidup, bisnis dan kebahagiaan.

Beberapa waktu berlalu, dia kembali lagi kepada saya dan curhat lagi, kira-kira isi curhatannya seperti ini:

“co, gw udah baca buku motivasi dan pencerahan, juga seminar yang lu rekomendasiin. Saat itu gw emang merasa feel better dan terdengar benar nan baik. Tapi kenapa sulit ya untuk mempraktekkannya? Jadi setelah pulang dari seminar atau saat gw selesai baca buku itu, gw akan kembali jadi diri gw yang suka galau. Kenapa ya?”

Anda pernah mengalami hal seperti ini juga?
Saya rasa semua orang di belahan dunia merasakan hal yang sama, termasuk juga saya. Saat membaca buku atau ikut seminar tentang pencerahan semua terasa baik dan energinya positif. Tapi saat jalan pulang ternyata sulit menerapkan kedalam kehidupan. Semua ilmu yang dipelajari hanya ada dalam tataran pikiran filosofis.

Contohnya berpikir “positif dan sabar.” Dalam penerapan sehari-hari apakah Anda bisa sabar saat ada karyawan yang menipu anda dan merugikan perusahaan. Bisakah Anda berpikir positif saat ada orang yang menghujat dan memfitnah anda?

Sangat mudah untuk menyetujui argumen tersebut bukan? Seolah apa yang ada dalam buku dan seminar pencerahan tidak mungkin bisa diterapkan, terutama dalam hal berpikir positif dan menjaga kesabaran saat situasi buruk.

Pertanyaan selanjutanya adalah ‘Apakah sifat kita bisa diubah?’
Jawabannya adalah bisa ‘iya’, bisa juga ‘tidak’. Lha kok jawabannya begitu? Karena memang semua tergantung dari sistem kepercayaan Anda. Henry Ford pernah berkata ‘Whether you think you can or you can’t you are right’, jika anda berpikir anda bisa atau anda tidak bisa, dua-duanya benar.

Jika semua tergantung dari belief system, apakah saat kita yakin bahwa kita bisa sabar dan berpikiran positif, kita akan menjadi orang seperti itu? Jawabannya adalah TIDAK!

Keyakinan bahwa kita bisa berubah ke arah yang lebih baik adalah pondasi awal yang bagus. Tapi jika kita hanya berhenti pada pondasi saja dan tidak membangun rumah, kita akan tetap kepanasan.

Karakter manusia tercipta dari kebiasaan. Dan semua sistem dalam pikiran kita terbentuk dari kebiasaan yang telah dilakukan berulang-ulang sehingga membentuk diri kita saat ini.

Jadi bukan hanya dipelajari untuk berpikir positif, tapi juga dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari dengan hal kecil yaitu menunda respon. Saat Anda mengalami suatu hal yang buruk dan ingin marah-marah, coba ditunda dulu sejenak dan renungkan bahwa anda tidak bisa mengontrol hal yang berada diluar anda, tapi anda bisa mengontrol respon Anda terhadap hal tersebut.

Sebagai contoh:
Saat dollar naik di angka Rp. 14.000, ada sebagian orang yang marah-marah dan mengumpat pemerintah di sosial media. Jika anda ingin melatih berpikir positif, lebih baik unfollow orang dengan karakter tersebut dan merespon dengan perbanyak belajar agar uang anda memiliki pertumbuhan pesat diatas inflasi.

Mulai sekarang, cobalah untuk filter teman-teman di sosial media Anda. Yang selalu mengundang kemarahan dan kebencian baiknya anda unfollow dulu, karena Anda berhak memilih asupan apa yang ingin dikonsumsi pikiran. Jangan sampai pikiran Anda menjadi tempat sampah berita-berita negatif.

Semoga artikel ini bisa membuat Anda move on dari kegalauan yang tak kunjung henti,
Karena pebisnis sukses itu bisa mengendalikan mood, bukan dikendalikan oleh mood.

Semoga bermanfaat ^^

- IKUTILAH SEKARANG -
marketing instagram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here